Dilema Pelari antara “Push Your Limit” vs “Know Your Limit” + “Listen to Your Body”

Bagi rekan-rekan yang lagi menggandrungi hobi berlari pasti sudah mulai terbiasa dengan jargon atau quote seperti “Push Your Limit”, quote yang memotivasi para pelari agar selalu bisa meningkatkan prestasinya, selalu berkompetisi dengan diri sendiri.

pushlimit

Banyak yang menggunakan quote ini untuk memotivasi diri di saat sedang mengikuti event Race lari, dgn maksud memecahkan rekor pribadi alias Personal Best (PB) / Personal Record. Entah ingin mengalahkan catatan waktu diri sendiri, atau mencoba lari jarak jauh yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Bukan hal yang buruk dan bukannya saya tidak setuju tentang quote ini, tetapi kebanyakan pelari mengartikan quote ini tanpa memperhatikan hal lainnya. Hal apakah itu yang harus diperhatikan?

Sudahkah Anda berlatih dengan benar dan tepat dalam rangka tujuan Anda untuk mengalahkan catatan pribadi Anda itu? Atau Anda cuman bermodal tekat alias Nekat?

Hal yang perlu diperhatikan adalah pernahkah Anda mengukur kemampuan Anda sebelum mendaftarkan diri utk mengikuti sebuah event lari, atau mencoba sesuatu yang baru tersebut?

Bagaimana cara mengukur kemampuan Anda ini? Caranya dengan berlatih dan berlatih.
Dengan berlatih, kita bisa mengetahui kemampuan diri melakukan aktivitas lari untuk jarak tertentu dengan kecepatan tertentu, apakah dapat diselesaikan dengan mudah, mengalami kesulitan yang cukup, sangat sulit melakukannya, atau berhasil melakukannya tetapi pada akhirnya mengalami cidera atau memiliki keluhan-keluhan. Dan dengan berlatih, kita bisa bertahap meningkatkan kemampuan kita tersebut, hingga pada akhirnya kita mampu dan yakin dapat menyelesaikan sebuah tantangan baru tersebut dengan baik dan tanpa cidera.

  1. Berlatihlah secara bertahap bebannya, rajin dan konsisten frekuensinya.
  2. Coba ikuti program-progam latihan yang disarankan oleh beberapa situs lari atau aplikasi lari melalui mode coaching.
  3. Janganlah nekat mengikuti event lari jarak jauh, yang Anda sendiri belum pernah merasakan 2/3 atau bahkan 3/4 dari jarak tempuh event tersebut.
  4. Mendengarkan masukan dari pelari yang sudah berpengalaman dapat menambah bekal ilmu.

tumblr_m33f4b3War1rtx06go1_r1_1280

Di saat berlari, jangan pernah melupakan hal ini… “Listen to your Body” atau “Dengarkan Tubuhmu”, perhatikan alarm-alarm yang dikeluarkan dari tubuh kita.
Alarm seperti apakah? Alarm tersebut bisa macam2… Nah bagaimana kita mengetahui apakah itu alarm atau bukan? Apakah kita terlalu manja thd diri kita sendiri dgn mendengarkan alarm-alarm tsb?

Alarm tubuh adalah segala sesuatu tanda yang dirasakan tidak nyaman oleh tubuh kita, misalkan ketidaknyamanan telapak kaki saat menapak, ketidaknyamanan pundak, ketidaknyamanan nafas, ketidaknyamanan dengkul saat mengayunkan kaki, ketidaknyamanan di kepala seperti gejala pusing, dan lain-lain.

Setiap gejala ketidaknyamanan yang muncul ini harus diperhatikan, dan jika Anda tahu cara mengatasi ketidaknyamanan tersebut, segera lakukan tindakan untuk menghilangkan ketidaknyamanan tersebut, jangan ditunda! Apabila Anda tidak tahu caranya, tentukan seberapa jauh Anda akan mentolerir ketidaknyamanan itu, karena semakin lama Anda memaksakan diri, semakin besar resiko cidera yang akan Anda alami, dan kemungkinan semakin lama recovery yang Anda perlukan untuk kembali “normal”. Bahkan untuk cidera yang serius, Anda bisa saja kehilangan kesenangan berlari untuk seterusnya.

Dari sini mudah2an, kita semua bisa menyayangi tubuh kita sendiri, tetap bisa meningkatkan diri “Push Your Limit”, tanpa cidera.

Be Healthy, Be Safe, and Be FIT!

Be a Champion!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s