Berhati-hati Menyampaikan Pendapat di Internet

Blog, Milis, Facebook, Plurk, Twitter … dan masih banyak media lainnya …
Merupakan sarana yg “mendukung” kita2 untuk mengungkapkan isi pikiran atau perasaan … atau nama lainnya ber-ekspresi …

Sebagian orang, termasuk saya sendiri, sering menggunakan media2 ini untuk menyampaikan “pesan” yang saya rasa penting dan perlu di-share ke orang lain, dengan harapan/pikiran bahwa informasi ini akan bermanfaat bagi orang lain.

Contoh “pesan” yang saya maksud adalah seperti:
– berbagi info tentang makan enak, fasilitas bagus, pelayanan memuaskan —> compliment
– berbagi info tentang pengalaman buruk atau kritik —> complain

Melihat perkembangan terkini yg terjadi di Indonesia, khususnya … kayaknya miris juga thd apa yg sedang dialami oleh bbrp orang yg “terjegal” akibat tulisannya sendiri.

Penekanan kasus: yang sedang dialami oleh Sdri Prita Mulyasari …
Di sini, saya tidak mau memberikan link thd tulisan dari Sdri Prita ini, krn nanti malah dianggap menyebarluaskan fitnah, krn saya sendiri tidak mengetahui kebenaran dari cerita tersebut. Tapi saya sampaikan berita yg terkait:
http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/06/01/brk,20090601-179289,id.html

Skrg saya coba me-simulasi-kan kejadian yang ada:
1. saya mengalami kejadian yg tidak menyenangkan
2. saya gak punya banyak duit
3. saya mengadukan keluhan, tapi tanpa respon yg memuaskan
4. saya menulis pengalaman tersebut di blog
5. lalu tulisan saya tersebarluaskan (secara pasif)
6. lalu yg dikomplain merasa gak senang, kemudian mengajukan tuntutan hukum
7. saya terjerat hukum sbg kriminal krn merusak nama baik
8. saya dipenjara

Hemmmm… seandainya saya punya duit dan punya kenalan para pejabat, mungkin saya sudah melakukan tuntutan hukum duluan dan mungkin akan terjadi jalan damai atau setidaknya saya “terpuaskan”, tanpa sempat menulis di blog.

Skrg yg jd permasalahan … “mencemarkan nama baik” / “merusak nama baik” / “fitnah” … sorry to say … kl memang kamu itu orang baik dan tidak pernah melakukan kesalahan … kenapa harus takut “dicemarkan nama baiknya” … Actions speak louder than words … *bener gak nulisnya*

Kl memang itu kritikan bagus, ya harusnya senang ada yg peduli dan memberikan masukan
Kl memang kritikan itu tidak benar, ya ngapain jg ditanggepin …

1 suara miring yg belum tentu benar, bisa dicounter dengan puluhan, ratusan, ribuan atau mungkin jutaan suara yg terpuaskan … buat lah kampanye positif, marketing yg “mengharumkan” nama …

Untuk kasus Sdri Prita ini, ada bbrp poin yg saya ambil:
1. lebih berhati2 dalam menuliskan pendapat, terutama yg berupa keluhan/komplain
—> ingat aja, hukum di indonesia masih belum “kondusif” utk kita “berekspresi”
2. pihak RS alangkah lebih bijak jika tidak memberikan tuntutan hukum berupa penjara tetapi sekedar denda yg lebih bersifat teguran (bukan ganti rugi), dan justru memberikan fakta atau penjelasan ke publik atas kasus yg terjadi …
—> terlepas itu benar atau tidak, menurut sy penjelasan ke publik itu lebih mengena …
—> tuntutan hukum yg ada sekarang, justru membuat RS ini makin dipandang “miring” oleh publik
—> memang dgn proses hukum seperti ini, membuat orang jera dan berpikir ulang sblm menulis kayak gini
—> rumah sakit harus mempertimbangkan keadaan Sdri Prita yang masih memiliki anak masih kecil

Duh kebayang kl saya atau istri saya yang ngalamin kayak gini, gmn nasib anak ku …

Ya sudah lah, mari kita dukung supaya Sdri Prita tidak mendapatkan perlakuan buruk yg berlebihan … ya kl memang harus dihukum, hukumlah ringan saja … krn:
– anak2 nya yg masih kecil
– setau saya dia cuman nulis berupa “curhat”, yg kemudian tersebar luas oleh pihak lain yg simpati —> menurut sy sih ini bukan kesengajaan.

Mari ikut dukung dengan bergabung di sini …
http://apps.facebook.com/causes/290597/6933421?m=5e433fd8

Sekali lagi … berhati2lah berpendapat di Internet … !!!
*sebuah himbauan yg bikin sy jadi males nulis lg*

Sedikit saran:
– komplain lah ke jalur yg benar dulu (termasuk hukum)
– simpan semua bukti dan fakta lapangan dengan baik
– ungkapkan dengan fakta dan bukti yg kuat … kl bisa post sekalian bukti nya … jd gak sekedar kata2 aja
– usahakan tidak berlebihan dan tidak mencoba membentuk opini publik … sampaikan bukti dan kronologi saja
– sebisa mungkin diungkapkan dalam bentuk himbauan positif, bukan berbentuk opini negatif

*kl dipikir2 tulisan Sdri Prita ini gak “keterlaluan” … msh wajar dan berupa himbauan, atau masukan positif utk RS tsb*

5 Comments Add yours

  1. jefri says:

    Menurut saya ada 2 problem besar yang dari waktu ke waktu perlu diperbaiki :
    1. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai suatu penyakit dan proses penyembuhan.
    hal ini terlihat dari interaksi Prita dgn pihak rumah sakit.
    Saya bukan dokter hanya praktisi komputer, tetapi senang baca literatur kesehatan.
    Penyakit virus yg diutarakan oleh dokter memang sering terjadi dan sulit teridentifikasi oleh manusia (termasuk dokter).
    Pada bulan yang sama dua anak saya masuk Rumah sakit juga karena serangan virus yg tidak jelas (virus udara bhsnya prita). Awalnya didiagnosa demam berdarah dan tipes tapi lucunya trombositnya masih diatas 300.000. meskipun demikian saya tetap memasukkan anak saya ke rumah sakit, dengan tujuan jangan sampai otak anak saya jadi masalah karena demam tinggi. Sakitnya anak saya juga disertai oleh diare dan muntah-muntah (tidak umum utk DBD) sehingga ada problem tambahan yaitu dehidrasi. Karena dua alasan itu kita harus memasukkan pasien untuk dirawat di Rumah sakit.
    Kisruhnya, Prita (dan masih banyak lainnya) tidak memahami bahwa diluar tubuh kita ada milyaran virus yg siap menginvasi tubuh kita. Tuhan cuma menyediakan satu sistem Imun tubuh untuk mengatasi bakteri dan virus yang akan masuk. Ketika tubuh kita diserang virus/bakteri dan menjadi lemah, maka tubuh kita membuthkan bantuan dari luar. Tugas dokter mendiagnosa penyakit dan tugas itu sangat berat mengingat ciri-ciri penyakit hampir sama meskipun sumber virus penyerangnya berbeda-beda.
    Disini dokter bisa salah (makanya dokter indo malas banyak ngomong, krn sekali ngomong salah, bisa diungkit2 terus sama pasien, contohnya prita ini).
    dokter memberi pengobatan sesuai diagnosa awal dan selanjutnya mengevaluasi dalam beberapa hari (jika ternyata diagnosanya salah) maka harus dibuat diagnosa ulang dan pengobatan yang sesuai lagi. ini proses yang wajar sesuai pengalaman saya menemani keluarga yang sakit.
    Infus dsbnya hanyalah supporting utk memastikan sistem imun kita dapat mengalahkan virus penyerang.
    2. Karena rendahnya pengetahuan masyarakat soal kesehatan, komunikasi dokter kepada pasien seringkali juga menjadi terhambat karena dokter kesulitan menjelaskan kepada keluarga pasien. Biasanya dokter akan lebih mau berdiskusi dengan keluarga pasien yang dapat memahami proses penyembuhan penyakit. Hampir umum disemua RS di indonesia, Dokter dan suster enggan menjelaskan dengan sejelas mungkin ke pasien dan keluarga karena takut tidak dimengerti. Jadi dokter dan suster lebih suka diam.
    untuk mensiasati, kirim keluarga yang mengerti utk berdiskusi dengan dokter, kalo mau bawa keluarga lain maksimum 2 orang saja (dokter juga manusia, takut dikeroyok).

    1. itu lah sebabnya dokter itu sekolahnya susah dan bayar sekolahnya juga mahal … en itu jg sebabnya rumah sakit swasta ngecharge cukup tinggi …
      dengan “alasan” … datanglah kemari, percaya pd kami … karena anda ada di tangan yg “benar” … “pasti” SEMBUH …
      or at least … “pasti” lebih “baik” dibanding anda ke puskesmas … ato rumah sakit kecil …

      cara pikir ini juga yg tertanam pd kebanyakan “konsumen” kesehatan … mereka lebih percaya dengan rumah sakit yg mahal dan bagus seperti omni.
      dengan pertimbangan: mahal gak papa, yg penting cepet SEMBUH … en ada anggapan, krn taraf internasional … gak mungkin salah penanganan.

      nah di sini yg sy rasa menjadi masalah … krn:
      1. dokter itu manusia, yg bisa saja bikin salah … dalam hal ini sy gak tau apakah bener salah diagnosa ato tidak.
      2. ekspektasi konsumen agak kelewat tinggi thd si rumah sakit yg mahal (en dokter nya) … “gw bayar mahal, loe gak boleh salah” …
      3. kadang rumah sakit merasa gengsi nya terlalu tinggi utk mengakui “mungkin” terjadi kesalahan
      4. dan mungkin … sekali lagi mungkin … tidak terjadi nya transparansi dan komunikasi yg baik antara pasien dan rumah sakit selama proses penyembuhan.

      saya rasa … kl saja terjadi komunikasi yg baik dan penanganan yg benar … kasus ini tidak akan menjadi besar dan panjang seperti ini …
      banyak dan sering koq dokter yg melakukan salah diagnosa di saat kita baru masuk ke rumah sakit ato ke ruang praktek nya … tp beliau segera mengkoreksinya.
      yang penting kan si pasien ini sembuh … betul gak ?

      ujung2nya dari masalah ini adalah sebenernya KESEMBUHAN … bukan masalah uang, nama, data ato lain2 … kl misalkan jadi nya SEMBUH … kebanyakan orang gak terlalu peduli lagi ama proses nya … ada sih emang yg pengen tau apa yg terjadi apa diri nya … tp tetep aja … Yang Dicari adalah KESEMBUHAN …

      Saya tidak menuduh pihak RS melakukan kesalahan ato apa2 dalam kasus penyembuhan Sdri Prita, hanya menyesalkan tindakan tuntutan hukum yg saya anggap berlebihan thd mantan pasien nya … yg mencoba memberi feedback atau masukan pada institusi tersebut …
      Mau feedback positif, negatif, atau “menjelek2an” … semua feedback seharusnya ditangani dengan terbuka … tunjukan kl RS OMNI itu emang bertaraf internasional … gak cuman sekedar label aja …

  2. jefri says:

    barusan liat2 buku di gramedia judulnya ” pasien pintar & dokter bijak”. Melihat sekilas isinya, buku tersebut menjelaskan bagaimana hubungan pasien dan dokter seharusnya. tapi krn buku lain telah dibeli, buku tersebut jadi target pembelian bulan depan…bagus tuh buat referensi kasus prita dan omni.
    Memang benar : dokter bisa salah diagnosa. dalam buku tersebut juga dijelaskan spt yg saya sampaikan.

  3. MrCjr says:

    ^___^ jadi serem yach berpendapat … atau mau curhat tentang komplen dengan pihak yang duit na banyak … hehehehe ….

  4. idarmadi says:

    Kita mungkin lebih harus belajar bagaimana menggunakan bahasa yang tidak tendensius. Daripadanya menggunakan bahasa “RS XXXX Menipu”, bisa menggunakan “Saya merasa TERTIPU oleh RS XXXX”, karena kalimat pertama bernada “menuduh”, sedangkan kalimat kedua bernada “opini”.
    Kalimat ke dua menempatkan posisi penulis sebagai ‘korban’ yang merasa tertipu, sedangkan kalimat pertama menempatkan RS XXXX sebagai ‘tukang tipu’.

    Tentang RS dan Dokter matre sih cerita udah banyak. Bukan cerita dari mulut ke mulut, tapi cerita dari first person juga udah sering saya dengar.

    Saya share 2 cerita horror deh :
    – Mertua sepupu saya, namanya juga orang tua, sendi suka sakit dan akhirnya menuruti kata anaknya untuk disuntik sendi. Pergi ke RS P di Jakarta Utara. Dokter tanpa ba bi bu, menanyakan riwayat sang pasien, langsung suntik. Sore kelojotan. Besok pagi koit. Rupanya punya history jantung. Kenapa dokter tidak tanya? manaketehe.

    – Ipar teman saya demam tinggi, masuk ke RS SKJ di pinggir jalan tol yang ada di jakarta barat. Di diagnosa dokter tidak tau sakit apa, trus opname. Malamnya mengerang2 kesakitan. Oleh suster dikasih obat penenang karena sudah malam dan dokternya besok pagi baru ada. Paginya modar, karena ternyata malamnya usus buntunya pecah semalam. Ironisnya, doi bukan orang miskin, tinggal di kamar vip. doi orang jakarta, bukan ke puskesmas, tapi ke RS. Kenapa saya bilang ini malpraktek? karena RS tersebut menawarkan settlement 50jt!! hahahaha…. nyawa cuman dihargai 50jt yang masih harus dikurangi biaya RS selama 1 malam itu.

    Sial engak sih? 2 RS itu definitely udah masuk blacklist gw kecuali kalo mo ke dokter yang udah gw kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s